Tersanjungkah engkau dengan licin lidahmu bertutur, sementara dalam hatimu tak ada apa-apa. Kau kunyah mitos pemberian masyarakat dan sangka baik orang-orang berhati jernih, bahwa engkau adalah seorang saleh, alim, abid lagi mujahid, lalu puas meyakini itu tanpa rasa ngeri. Asshiddiq Abu Bakar Ra. selalu gemetar saat dipuji orang. “Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidaktahuan mereka”, ucapnya lirih
Tampilkan postingan dengan label Kiprah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kiprah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Mei 2017

Tahukah anda?

**TAHUKAH KITA?*×*

Bahwa ikan yg ribuan tahun lalu menelan Nabi Yunus As itu ternyata masih hidup sampai sekarang, bahkan sampai hari kiamat. hal ini sdh dijelaskan dalam al-Qur'an: andai Yunus itu tidak beristighfar, tentu ia akan tinggal dalam perut ikan tersebut sampai hari kebangkitan..

Tahukah Anda....?
bahwa janin semasa dalam kandungan perut ibunya, dia dilihatkan perjalanan hidupnya mulai dr lahir sampai mati, karena itu, terkadang ketika kita berkunjung ke beberapa tempat yang baru, tp seolah tempat tersebut sudah tidak asing bagi kita.

*Taukah Anda*.....?
di saat bersin, seluruh anggota tubuh kita berhenti berfungsi, seolah mati, ini terjadi dalam hitungan detik, setelah itu berfungsi normal kembali, inilah kenapa dalam islam di sunnahkan membaca alhamdulillah setelah bersin, sebagai ungkapan syukur atas berfungsinya kembali seluruh anggota badan kita.

*Tahukah Anda*.....?
menguap itu bukan tanda bahwa kita mengantuk, tapi itu adalah pertanda bahwa tubuh kita butuh tambahan oksigen

*Tahukah Anda*......?
bahwa memakan kurma dalam jumlah genap itu akan menghasilkan gula darah, karena itu Rasulullah menganjurkan kita untuk memakannya dalam jumlah ganjil, agar berubah menjadi karbohidrat.

*Tahukah Anda*......?
bahwa tepat setelah dikumandangkannya azan itu adalah waktu yang mustajab untuk berdoa.

*Tahukah Anda*......?
di mana dosa-dosa kita diletakkan ketika kita shalat?
Nabi Muhammad saw bersabda: "sesungguhnya seorang hamba ketika menunaikan shalat, dia membawa serta semua dosa-dosanya, kemudian dosa-dosa itu d taruh di atas kepala dan kedua pundaknya, maka ketika tiap kali ia ruku' atau sujud berjatuhanlah dosa-dosa tersebut".
wahai orang-orang yang biasa tergesa-gesa dalam shalatnya, tenanglah... dan tahanlah lebih lama ruku' dan sujudmu, agar lebih banyak lagi berguguran dosa-dosamu.

*Tahukah Anda*.......?
diceritakan ada seorang wanita soleha yg meninggal, maka tiap kali penduduk desa ziarah kubur, mereka mencium harumnya mawar dr dalam kubur, kemudian suaminya menjelaskan, bahwa istrinya itu semasa hidup selalu membaca surah al-mulk, setiap mau tidur..
sesungguhnya surat al-mulk itu menyelamatkan dari siksa kubur.

*Tahukah Anda*.......?
ketika kita membaca ayat kursi tiap usai shalat, maka tidak ada penghalang antara kita dan surga kecuali maut.

*Tahukah Anda*.......?
bahwa para malaikat mendoakan kita ketika usai shalat, karena itu jangan terburu untuk beranjak dari posisi duduk shalat kita.

Silahkan SHARE ! semoga bermanfaat & Semoga menjadi ambyal Jariyah kepada yang membagikan. Aamiin Allahuma Aamiin
Copas from yesmuslim.blogspot.com

Baca Selengkapnya dan biasakan meninggalkan komentar»

Jumat, 05 Mei 2017

CATATAN AKSI SIMPATIK UMMAT ISLAM INDONESIAA 55

CATATAN AKSI SIMPATIK UMMAT ISLAM INDONESIAA 55

Bagian 2. Narasi Persaudaraan dan Peradaban

Shalat Jum'at dimulai. Jama'ah shalat mendengarkan khutbah. Diluar, tak begitu hening. Saya tak mencatat khutbah Jum'at di siang tadi. Hanya sempat mengingat beberapa penggal yang disampaikan oleh khatib. Salah satu penggal ayat disampaikan. Salah satunya tentang ayat "Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah". Ali-Imran ayat ketiga.

Khutbah hari ini begitu dalam. Pertama, khatib menjadikan ayat tersebut sebagai alas dari narasi persaudaraan ummat Islam. Kita adalah ummat yang Allah hadirkan di bumi ini dengan semangat persaudaraan. Dengan semangat ukhuwah dan solidaritas. Dengan semangat ringan sama dijinjing berat sama dipikul. Dengan semangat cinta tanpa batas teritori dan warna kulit dan suku bangsa. Dengan semangat saling merasakan jika ada salah satu dari kita yang terluka. Semua itu menjadi pengikat yang melahirkan energi ummat yang menakjubkan.

Kedua, khatib mengingatkan kembali bahwa kita -ummat Islam ini- adalah ummat yang bermartabat. Yang dimaksud bermartabat adalah ummat yang memiliki daulat. Kita adalah ummat yang berpakaian kehormatan. Kita adalah ummat yang memiliki harga diri. Ummat yang memiliki marwah dan rasa malu. Ummat yang juga bermanfaat bagi sesama manusia. Kita lembut kepada manusia. Senantiass berbuat baik karena itulah ciri kemanusiaan kita yang palinh sederhana.

***

Ketiga, khatib juga menyampaikan bahwa diantara manusia ada ikatan yang senantiasa harus kita suburkan, pererat dan kuatkan. Itulah ikatan dan persaudaraan atas dasar kebangsaan, kemanusiaan dan peradaban. Persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyah) adalah ikatan cinta kita sebagai seorang Indonesia dimana seluruh cinta dan perhatian kita kita berikan kepada bangsa ini dan penghuninya.

Persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah insaniyah) juga harus menjadi dasar kita berhubungan. Ada kewajiban kita sebagai manusia yang wajib kita berikan kepada seluruh manusia. Berbuat baik, tolong-menolong, berkomunikasi dan berhubungan dengan akhlak yang baik, rendah hati, saling memuliakan, saling menjaga dan merawat hubungan adalah bagian dari cara kita sebagai ummat dalam menjalani hubungan diantara manusia.

Khatib juga menyampaikan bahwa ada ikatan kita sebagai manusia global, yaitu ikatan peradaban. Inilah ikatan besar yang menyatukan ummat manusia di bumi. Kewajiban kita untuk memakmurkan bumi dan menghalanginya dari kerusakan adalah wujud dari ikatan peradaban. Dengan ikatan peradaban, maka visi kemanusiaan maujud dalam mewujudkan perdamaian abadi dan keadilan sosial.

***

Khatib juga menyampaikan, bahwa aktivitas kehidupan kita, termasuk dalam aktivitas hari ini, harus dikerjakan dengan meluruskan niat terlebih dahulu. Ada orang yang awal langkahnya benar tapi di pertengahan menjadi rusak. Atau awalnya benar, tapi akhirnya rusak, karena tidak menjaga niatnya dengan lurus. Niat adalah pangkal dari seluruh amal. Niat kita pada kebaikan akan menjadi penjaga dari kebaikan itu sendiri.

Di akhir kalimat, khatib menyampaikan bahwa dalam hubungan kita dengan sesama muslim dan dengan manusia, ada nasihat seorang shalih yang bisa menjadi panduan kita dalam menjaga agar senantiasa tumbuh kebaikan diantara ikatan kita. "Kalau tidak bisa mempermudah orang lain, janganlah mempersulit. Kalau tak mampu menghibur orang, janganlah membuatnya sedih. Kalau tidak bisa memuji orang, janganlah menghina".

Nasihat yang sederhana yang sudah dilanggar Ahok. Ia mengumbar kata-kata yang menghina, membuat sedih orang dan mempersulit urusan banyak warganya. Syukurlah ia kalah. Semoga Gubernur DKI yang baru ini lebih lembut hati dan lisannya, lebih mempermudah urusan warganya, lebih memajukan kota dan membuat seluruh penduduknya bahagia. Sederhana sekali permintaan kami.

Hayya 'alash sholah. Hayya 'alal falah. Mari kita sholat Jum'at. Mari menuju kemenangan.

(Bersambung)
#CopasfromWAGAksiBelaIslam

Jakarta, 5 Mei 2017

Baca Selengkapnya dan biasakan meninggalkan komentar»

Adab Pelajar

Berikut beberapa adab yang harus diperhatikan saat berada bersama guru/ulama : .
1. Duduklah dengan rapi, tenang, tawadhu’, mata tertuju kepada mereka. Tidak membentangkan kaki, tidak bersandar, tidak tertawa dengan keras, tidak duduk di tempat yang lebih tinggi juga tidak membelakanginya. .
2. Tidak memotong pembicaraan atau mengeraskan suara di hadapannya.
3. Jika ingin bertanya, tunggulah sampai diizinkan. Lakukan dengan tenang, lembut, jelas, singkat dan padat.
4. Mendengarkan kata-katanya dengan sabar dan seksama.
5. Apabila guru/ulama melakukan kesalahan, tegur dengan sopan tanpa mengurangi rasa hormat. Selain itu, hindari mencari-cari kesalahan mereka dengan sengaja.
6. Teladani ilmu bermanfaat yang diajarkan. .
7. Doakan mereka dengan doa yang baik. .

Baca Selengkapnya dan biasakan meninggalkan komentar»

Jagalah dirimu!!!

Umat Muslim sejatinya adalah insan-insan yang penuh ketaatan pada Allah SWT. Mereka tidak sekadar berikrar akan keesaan Allah SWT serta menjaga ibadah semisal shalat, shaum, atau zakat. Mereka pun tidak pernah tawar-menawar akan perintah dan larangan Allah SWT. Mereka senantiasa mendengar serta siap menjalankan syariah-Nya.

Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Sungguh jawaban kaum Mukmin itu, bila dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, ialah ucapan. "Kami mendengar dan kami patuh." Mereka itulah orang-orang yang beruntung (TQS an-Nur [24]: 51).

Keimanan kepada Allah SWT dan Rasulullah saw. yang hakiki tak cukup sekadar ucapan di mulut tetapi kosong dari pembuktian. Keimanan hakiki harus terwujud dalam ketaatan dan keberpihakan pada Allah SWT dan Rasul-Nya. Tanpa itu, keimanan hakiki jauh dari kenyataan.

Penuhi Panggilan Allah SWT dan Rasul-Nya

Di antara tanda keimanan hakiki adalah bersungguh-sungguh memenuhi panggilan Allah dan RasulNya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul jika Rasul menyeru kalian pada sesuatu yang memberikan kehidupan kepada kalian (TQS al-Anfal [8]: 24).

Terkait ayat di atas, Imam ath-Thabari rahimahulLâh mengatakan, “Penuhilah seruan Allah dan Rasul-Nya dengan ketaatan jika keduanya menyeru kalian pada perkara yang menghidupkan kalian, yaitu kebenaran...jika keduanya menyeru kalian pada hukum al-Quran.”

Dalam Tafsîr al-Qaththân juga dikatakan, “Wahai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan bersiaplah dalam hal yang Dia perintahkan kepada kalian, dan jawablah seruan Rasul dalam menyampaikan apa yang Allah perintahkan jika Rasul menyeru kalian pada perintah-perintah Allah dengan hukum-hukum yang di dalamnya ada kehidupan bagi raga, jiwa, akal dan hati kalian.” (Taysîr at-Tafsîr al-Qurân lil-Qaththan, 2/102, Maktabah Syamilah).

Begitu penting dan wajib memenuhi panggilan Allah SWT dan Rasul-Nya, seorang Muslim harus meninggalkan perkara-perkara lain yang masih bisa ditinggalkan. Imam al-Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah menegur seorang sahabat bernama Abu Said bin al-Mualla ra. yang tidak bersegera menjawab panggilan beliau karena memilih untuk menyelesaikan terlebih dulu shalatnya. Kemudian Rasulullah saw. berkata kepada dia, “Apa yang menghalangi kamu untuk datang? Bukankah Allah telah berfirman: Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul jika Rasul menyeru kalian pada sesuatu yang memberikan kehidupan kepada kalian.”

Para sahabat mencontohkan bagaimana seharusnya seorang Muslim senantiasa wajib berpihak pada perintah dari Allah SWT dan Rasul-Nya. Ketika turun QS al-Maidah (5) ayat 90 yang mengharamkan khamr, mereka segera membuang persediaan, khamr termasuk yang tengah berada di gelas-gelas mereka yang hendak mereka minum, tanpa menunda waktu lagi; tanpa lagi berpikir bahwa itu sudah menjadi adat kebiasaan mereka.

Demikian pula saat Allah SWT mengharamkan menikah dengan pria dan wanita musyrik (QS al-Mumtahanah [60]: 10), para sahabat segera menjatuhkan talak kepada istri mereka yang tidak mau diajak beriman. Pada saat itu Umar bin Khaththab ra. menceraikan dua orang istrinya (lihat: Tafsîr Ibnu Katsîr, 8/94, Maktabah Syamilah).

Seorang Mukmin juga tak rela bila melihat hukum-hukum Allah SWT terabaikan meski hanya satu hukum. Mereka akan bersegera meluruskan setiap penyimpangan dari perintah Allah SWT dan Nabi-Nya. Ketika pada masa Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq ra. muncul kelompok-kelompok yang menolak membayar zakat, Khalifah segera mengirim utusan untuk mengingatkan mereka akan kewajiban zakat. Manakala mereka tetap menolak, Abu Bakar ra. akhirnya memutuskan untuk memerangi mereka.

Saat itu Umar bin al-Khaththab ra. mengingatkan Khalifah Abu Bakar ra. karena keputusan itu berarti memerangi orang yang telah bersyahadat dan shalat.

Khalifah Abu Bakar ra. memberikan jawaban yang tak bisa dibantah kebenarannya oleh Umar bin al-Khaththab ra., “Demi Allah, aku akan memerangi orang yang memisahkan antara shalat dan zakat karena sesungguhnya zakat adalah hak atas harta. Demi Allah, jika sekiranya mereka menahan dariku seutas tali, pasti akan aku perangi mereka karena kelakuan mereka itu.”

Ucapan Khalifah Abu Bakar ra. menegaskan kewajiban atas umat untuk melaksanakan syariah Islam secara kâffah tanpa boleh ada satu pun yang tercecer apalagi sengaja diabaikan. Meninggalkan satu perintah Allah SWT berkonsekuensi dosa besar di sisi-Nya. Lalu alasan apa yang bisa kita ajukan ke hadapan Allah SWT bila hari ini banyak sekali hukum-hukum-Nya yang ditinggalkan?

Saat ini ekonomi umat dibiarkan dicengkeram oleh sistem kapitalisme-neoliberalisme. Sistem ini telah menciptakan jurang kemiskinan yang semakin menganga lebar. Sumberdaya alam dikeruk bangsa asing bukan untuk kesejahteraan umat. Praktik ribawi dianggap biasa, padahal itu adalah dosa besar.

Kehidupan sosial umat terpuruk dalam hedonisme, perzinaan dan perselingkuhan. LGBT merebak. Tingkat perceraian justru meroket. Semua ini akibat syariah Islam ditelantarkan.

Padahal tak ada alasan bagi umat Islam untuk menelantarkan syariah Islam dan kewajiban menegakkan Khilafah Islam. Keduanya adalah perkara yang amat agung. Bahkan penegakan Khilafah disebut sebagai tâj al-furûd (mahkota kewajiban) karena banyak kewajiban agama yang tak mungkin terlaksana tanpa keberadaan Khilafah. Imam Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan,  “Ketahuilah juga, para sahabat Nabi saw. telah sepakat bahwa mengangkat imam (khilafah) setelah berakhirnya zaman kenabian adalah wajib. Bahkan mereka menjadikan pengangkatan imam (khalifah) itu sebagai kewajiban terpenting karena mereka telah menyibukkan diri dengan hal itu ketimbang memakamkan jenazah Rasulullah saw..” (Al-Haitami, Ash-Shawâiq al-Muhriqah, hlm. 17).

Jelas kewajiban melaksanakan syariah Islam dan penegakkan Khilafah secara naqli  merupakan kewajiban yang telah disepakati oleh para ulama, khususnya ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Dosa Besar Menghalangi Dakwah

Hari ini umat bukan hanya telah menelantarkan banyak hukum-hukum Allah SWT, tetapi juga di tengah-tengah mereka bermunculan kelompok-kelompok yang menghadang manusia dari jalan Allah SWT. Mereka mencoba memalingkan manusia yang hendak melangkah ke jalan kebenaran, menjemput hidayah. Mereka justru dicegah, dihalang-halangi dan diintimidasi. Perbuatan ini amat dicela oleh Allah SWT, bahkan pelakunya diancam dengan azab yang pedih, sebagaimana firman-Nya:

أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ (18) الَّذِينَ يَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ (19) أُولَئِكَ لَمْ يَكُونُوا مُعْجِزِينَ فِي الْأَرْضِ وَمَا كَانَ لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ يُضَاعَفُ لَهُمُ الْعَذَابُ

Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim, (yaitu) orang-orang yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan menghendaki (supaya) jalan itu bengkok. Mereka itulah orang-orang yang tidak meyakini adanya Hari Akhirat. Mereka itu tidak mampu menghalang-halangi Allah untuk (mengazab mereka) di bumi ini. Sekali-kali tidak ada bagi mereka penolong selain Allah SWT. Siksaan itu dilipat gandakan atas mereka  (TQS Hud [11]: 18-22).

Yang dimaksud dengan menghalangi manusia dari jalan Allah SWT, menurut Imam ath-Thabari yakni: menolak manusia dari mengikuti kebenaran dan meniti jalan hidayah yang mengantarkan pada (agama) Allah Azza wa Jalla dan mendekatkan mereka ke surga.

Di dalam ayat tersebut Allah SWT menyebutkan berbagai ancaman bagi siapa saja yang menghalang-halangi manusia berjalan di jalan-M. Mereka dilaknat, diancam dengan azab-Nya, tidak akan mendapatkan pertolongan-Nya, dilipatgandakan azab-Nya atas mereka, usaha mereka akan lenyap dan di akhirat akan merugi.

Rasulullah saw. juga mengingatkan orang-orang yang menebarkan permusuhan kepada sesama Muslim dengan kebatilan, padahal mereka tahu yang mereka lakukan adalah perbuatan batil. Beliau bersabda:

وَمَنْ خَاصَمَ فِى بَاطِلٍ وَهُوَ يَعْلَمُهُ لَمْ يَزَلْ فِى سَخَطِ اللَّهِ حَتَّى يَنْزِعَ عَنْهُ وَمَنْ قَالَ فِى مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ أَسْكَنَهُ اللَّهُ رَدْغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ

Siapa saja yang berseteru dalam kebatilan, sementara ia tahui, maka ia senantiasa berada dalam kemurkaan Allah hingga ia meninggalkan perseteruan itu. Siapa saja yang mengatakan pada diri seorang Mukmin sesuatu yang tidak ada pada dirinya, maka Allah akan menempatkan dia dalam perasan penduduk Neraka hingga ia meninggalkan apa yang ia katakan (HR Abu Daud).

Wahai kaum Muslim:

Jadilah bagian dari para pejuang yang berjuang menegakkan syariah dan Khilafah, dan jangan menjadi kelompok orang yang justru menghalangi manusia dari jalan Allah SWT! Sungguh telah jelas kerusakan menimpa kita karena kita jauh dari kehidupan Islam, sedangkan Islam senantiasa mengajak kita ke dalam petunjuk Allah SWT. Tak ada petunjuk yang paling lurus melainkan datang dari agama Allah SWT.

Sungguh besar dosa orang-orang yang menghalangi manusia dari jalan dakwah dan bersekutu dengan kemungkaran. Perbuatan tersebut adalah pengkhianatan terhadap Allah SWT, Rasulullah saw. dan umat. []

Al-Islam No. 855, 8 Sya'ban 1438 H — 5 Mei 2017

Baca Selengkapnya dan biasakan meninggalkan komentar»

Sabtu, 30 Juni 2012

Surat Rahasia tahun 2008

Surat Rahasia tahun 2008
 
Muqoddimah:
Latar belakang kedatangan kami :
Kami orang-orang biasa yang masing-masing punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebagian kami masih ber-waztan (wazhifah tanzhim/tugas struktural), sebagian tidak lagi, ada juga yang belum pernah ber-waztan internal. Kesatuan kami hanyalah pada kesatuan hati dan kecintaan kami kepada Jama’ah ini. Terlebih lagi, bagi beberapa orang di antara kami, Ustadz adalah guru kami dan tetap demikian di hati kami. Kecintaan mantan mutarobbi tak pernah boleh diukur dengan perubahan status kami sekarang, maupun dengan sikap kami saat ini dalam menghadapi permasalahan Jama’ah.
Bagi kami semua se-Jama’ah ini, Ustadz tak pernah dilupakan sebagai guru awal dan pendiri organisasi ini, sudah amat banyak jasa Ustadz yang kami yakin tak akan dihapus demikian saja oleh manusia maupun oleh Allah SWT, Insya Allah.
Bermula dari berbagai hal yang terjadi sejak lama, sedikit demisedikit, dan kemudian sekarang menjadi tak tertahankan. Apalagi fenomena “tak tertahankan” tersebut sudah bukan lagi terasa secara internal, tetapi juga sudah sangat terasa di luar komunitas kita, yaitu di masyarakat. Di internal kita rasakan a’dho sudah gelisah dan gonjang-ganjing, penurunan tsiqoh kepada Qiyadah, jama’ah dan kecurigaan antar sesama a’dho sudah meluas, sedangkan secara eksternal terjadi penurunan tsiqoh objek dakwah secara luas dan signifikan. Oleh karena itu izinkanlah kami terdahulu memohon maaf atas keterlambatan kami untuk memberikan hak taushiyah kepada Ustadz sehingga baru sekarang kami melakukannya. Yang sebenarnya adalah karena kami masing2 mempunyai kekhawatiran jika pendapat-pendapat kami ketika sendiri-sendiri, lebih dominan diwarnai subyektifitas kami sebagai manusia.
Alhamdulillah, Ahad 23 Maret 2008 kemarin atas izin dan mudah2an Ridho Allah SWT, kami berkumpul (bertempat di Universitas Ibnu Khaldun, Bogor) untuk membicarakan permasalahan Jama’ah. Semua datang dengan motivasi yang sama: cinta kepada Jama’ah, sayang kepada Ustadz dan sadar akan kewajiban taushiyah kepada Ustadz. Tidak ada dalam pertemuan kami tsb yang mempunyai agenda melecehkan atau mengkudeta Ustadz, meskipun warna emosi dan warna semangat kami berbeda-beda, tujuannya sama: ishlah dalam Jama’ah yang sama-sama kita cintai ini.
Kami berharap Ustadz dapat menerima kami dengan kepala dingin dan hati terbuka dengan sama-sama berharap keRidho-an Allah SWT. Kami juga mohon maaf jika dalam tulisan ini maupun dalam penyampaian lisan kami ada kata-kata yang menyinggung, meresahkan atau membuat Ustadz sedih, maafkanlah kami, karena sesungguhnya kami adalah “anak-anak Ustadz” dalam harokah ini. Tiada lain kami menyampaikan ini semua sebagai anak kepada bapaknya. Kami berdoa semoga kelak di Jannah kita semua akan berkumpul kembali dan saling bergembira dengan pertemuan tersebut bersama-sama dengan para Nabi, Syuhada, Siddiqien, dan Sholihiiin. Amin.
Kami memandang ada 3 pokok permasalahan dalam Jama’ah saat ini :
Masalah aplikasi SYSTEM:
a.Tidak diposisikannya TARBIYAH sebagai CORE COMPETENCE jama’ah, meskipun diatas kertas-kertas kerja tertulis dengan jelas, dan di dalam taujihat dibunyikan dengan lantang. Contoh misalnya :
a.Lemahnya tarbiyah setelah seseorang bergabung dengan struktur
ضعف التربية بعد التنظيم
Fenomena menurunnya porsi mutaba’ah ibadah (seperti ma’tsurot hanya shughro), tidak lancarnya tatsqif, dan merosotnya kualitas taqwim dll, sementara aktifitas politik dimutaba’ah dengan ketat dan disertakannya iqob.
b.Tersendatnya aplikasi manhaj pencetakan para naqib
عدم تطبيق منهج تخريج النقباء
Fenomena naqib terlalu sedikit, pencetakan naqib baru kurang lancar, tersendatnya aktifitas usar hanya untuk politik, naqib-naqib yang kurang bijak, naqib-naqib yang meninggalkan pos karena tugas-tugas yang terlalu banyak dll.
b.Pelanggaran-pelanggaran / pencederaan terhadap syuro bahkan sampai merekayasa hasil keputusan syuro[i].
c.Tidak ditegakkannya keadilan dalam berbagai kasus yang sudah mutawatir
d.Tidak transparannya cashflow keluar-masuknya uang dalam jumlah fantastis[ii]
e.Dalam masalah maal:
1.Tidak dipedulikannya rambu-rambu syariat dalam keluar-masuknya uang.
2.Tidak transparannya pemisahan dan audit penggunaan atas dana-2 sehingga tidak jelas mana aset pribadi dan mana aset jamaah.[iii]
2. MURAQIB ‘AAM
a.Tidak qudwah
i.Dalam hal keluar-masuknya uang (tidak transparan, tidak dipisahkan antara asset pribadi dan asset jama’ah, tidak teraudit oleh lembaga yang semestinya)
ii.Tidak adil dalam menangani berbagai kasus personal maupun struktural
iii.Membiarkan kultus individu terhadap diri ketika tidak memveto perubahan AD/ART yang merubah masa jabatan qiyadah dari “maksimal dua kali masa jabatan” menjadi “seumur hidup”
iv.Ketidak-konsistenan (ketika ditanya) dalam beberapa isyu; misalnya ketika plin-plan dalam kebijakan soal isyu “terbuka” paska mukernas Bali
v.Banyak menyimpan “hidden agenda” sehingga timbul banyak kesimpang-siuran di kalangan a’dho
Untuk semua ini, terlihat bahkan diqudwah-i oleh sebagian ikhwah di bawah Ustadz sampai ke level-level bawah
b.Kesalahan dalam penerapan manhaj
i.Membiarkan gejala kultus individu yang over sehingga tidak ada yang bisa mengontrol MA atas nama rukun bai’at “Taat” dan “Tsiqoh”. Ini berdampak luas, sampai ikhwah menjadi tidak kreatif, jumud dll
ii.Da’wah yang asalnya merupakan gerakan yang syamilah dijadikan gerakan juz’iyyah-siyasiyah, sehingga dampak luas dirasakan masyarakat negeri ini yang kehilangan sosok-sosok da’i penerang ummat para teknokrat yang amanah dan para ilmuan bermanfaat dari posnya masing-masing.
iii.Membangun sistem kepemimpinan terpusat sehingga qiyadah/jamaah sering mengabaikan banyak keputusan-keputusan syuro di berbagai level kepemimpinan dalam jamaah; misal :
1.Usulan tertentu di level usroh ketika diajukan ke struktur di atasnya tiba-tiba pada level struktur tertentu dicoret begitu saja
2.Keputusan-keputusan DSP begitu saja ditepis/diabaikan
3.Keputusan-keputusan MS begitu saja ditepis
4.Pemira-pemira internal yang tidak aspiratif karena dipenuhi intrik dan pilih kasih
c.Kesalahan dalam kebijakan
i.Proses pendirian Hizib tidak disertai SWOT-UPmemadai. Terbukti sekarang menimbulkan kebijakan yang High Cost (secara finansial) dan High Energy (secara SDM) . Di antara dampak yang timbul: komunitas-komunitas yang tadinya da’wah kita kuat menjadi melemah bahkan lepas; seperti kampus misalnya.
ii.Penempatan SDM di tempat-tempat rawan pdhl mentalnya belum siap menghadapi “talawuts”
iii.Dengan dalih “akselerasi”, proses taqwim menjadi tidak sesuai manhaj alias longgar dan banyak jumlah pertambahan tapi kualitas kader jauh di bawah standar. Sangat dikhawatirkan masuknya jassus, fasik, orang-orang yang tidak ikhlas dll.
iv.Tidak diperhatikannya Tarbiyah sehingga akhlaq banyak a’dho menjadi bermasalah pada gilirannya ini merugikan wajah dakwah kita di masyarakat dan menurunkan tsiqoh obyek dakwah.
v.Lemahnya sistem input informasi dari lapangan ke MA sebagai dasar pembuat kebijakan; misalnya kasus penetapan lokasi penyelenggaraan mukernas di Bali diyakini qiyadah sbagai “no problem” pdhl banyak a’dhi bingung, berkeberatan,resah sampai tersinggung.
3.BUKTI MEROSOTNYA KEPERCAYAAN MASYARAKAT KEPADA KITA SEBAGAI PARTAI DAKWAH
a.Akibat ulah beberapa orang a’dho dalam sepak terjang atas nama Jama’ah maupun sepak terjang dalam urusan pribadi, telah tersebar rumor-rumor negatif mutawatir yang bisa dibagi dalam beberapa judul :
-Dalam masalah tender-tender di departemen yang diambil dengan tidak adil
-Dalam masalah utang piutang yang tidak mau dibayar, dan jika ditanya selalu dijawab: “Ah ini kan untuk perjuangan, jihad, masa antum gak mau nyumbang ?”
-Dalam manuver ke media massa yang dengan mudah mengeluarkan statement yang belum pernah disepakati.
-Dalam masalah perilaku a’dho yang menyangkut masalah akhlak, khususnya maslah ta’adud dengan cara yang jauh dari ahsan, pergaulan dengan person-person yang dikenal masyarakat sebagai gembong-gembong fajir dll
b.Adanya manuver secara jama’iyan maupun kelembagaan yang menimbulkan keresahan masyarakat, misalnya:
-Dalam masalah proses lepasnya BUMN-BUMN penting dari pengelolaan negara
-Dalam peluncuran berbagai kebijakan pemerintah yang bertentangan dengan penderitaan rakyat, misal kasus naiknya BBM
-Dalam sepak terjang berbagai Pilkada yang sarat isyu, sejak dari pemilihan partner musyarokahnya, sampai pemilihan person dari luar yang sama sekali tidak sejalan dengan visi-misi sosok Partai Dakwah, bahkan sampai isyu politik uang untuk menang.
-Yang paling besar dan berbahasa isyunya akhir-akhir ini adalah masalah “perdagangan musyarokah” dengan angka-angka yang fantastis dan disaksikan oleh orang-orang luar yang menjadi brokernya. Mereka semua (orang luar yang pernah terlibat atau pernah menyaksikan berbagai transaksi tanpa bukti tersebut) laa samahAllah dapat saja menjadi saksi hukum untuk menggugat Partai, Jama’ah dan bahkan MA.
Semua contoh-contoh di atas bahkan sudah luas dibicarakan di koran, internet, sms dan komunitas-komunitas. Banyak a’dho yang menceritakan digugat keluarga besarnya dengan berbagai pertanyaan tentang masalah-masalah tersebut, dan tak ada a’dho yang bisa memberi jawaban yang mengembalikan kepercayaan yang sudah hilang.
Beberapa tokoh masyarakat di level daerah sampai nasional karena kekecewaaannya, sudah menarik dukungan morilnya dari PKS. Di masyarakat sudah banyak yang menganggap PKS sebagai Partai Podo Wae (Partai sama saja), artinya sama saja dengan Partai-Partai lama yang terkenal korup dan main politik uang.
Carut marutnya wajah dakwah kita yang tampak di luar ini, telah amat banyak merugikan dakwah. Banyak muayyid yang berhenti halaqoh karena tidak lagi tsiqoh.
Laa haula wa laa quwwata illa billah.
PERMINTAAN KAMI
1.Ishlah dalam bab QUDWAH
a.Melakukan AUDIT atas keluar-masuknya uang baik yang diterima Ustadz selaku pribadi maupun a’dho-a’dho yang dalam jangkauan wewenang Ustadz.
b.Tegakkan keadilan seadil-adilnya dalam menangani kasus-kasus pribadi maupun struktural, tanpa pandang bulu, agar rasa keadilan tumbuh di tengah ikhwah. Termasuk agar a’dho yang terlanjur “merasa” ataupun memang terzholimi terobati rasa keadilannya.[iv] Penting untuk merangkai kembali benang-benang ukhuwwah yang sudah kusut dan rusak karena kesalahan2 ini.
c.Mengembalikan klausul AD/ART jama’ah yang menyangkut bab “lama masa jabatan”. Hendaknya dikembalikan dari “seumur hidup” menjadi “maksimal dua kali masa jabatan”
d.Hentikan/taubat dari semua bentuk “kebohongan publik”. Hormati mekanisme struktur yang berlaku walaupun tidak sesuai dengan aspirasi pribadi MA.
e.Menjelaskan lalu berhenti melakukan move-move yang bisa diartikan sebagai “hidden agenda”.
2.Ishlah dalam bab Kesalahan Penerapan Manhaj
a.Hentikan kultur “kultus individu” dengan membangun “kultur kesetaraan”. Ingat ucapan sahabat Rib’iy bin Amir “Kami diutus Allah untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan sesama hamba untuk menghamba kepada Allah semata.”
b.Cabut kebijakan/qoror Al-Hizb huwa Al-Jama’ah wal Jama’ah hiyal Al-Hizb sehingga da’wah kembali menjadi gerakan syamilah BUKAN juz’iyyah-siyasiyah. Juga memastikan bahwa setiap SDM berada di pos masing-masing yang memang sesuai keahliannya, termasuk di Hizb (jika masih akan diteruskan) dipastikan yang berada di sana adalah yang sudah ditaqwim Insya Allah kompeten dalam semua hal di bidang itu.
c.Lakukanperubahan-perubahan struktural yang memastikan jamaah bergerak ke arah menjadi suatu system yangbenar-benar Islami. Ganti budaya yang sempat mengandung nilai-nilai otoriter menjadi egaliter; terpusat menjadi terstruktur; monolitik-homogen menjadi dinamis-heterogen; top-down approach menjadi iklim dialog (two-way traffic); passive atmosphere menjadi creative-interactive culture
3.Ishlah dalam Bab Kesalahan Kebijakan
a.Walaupun terlambat bikin riset ilmiah-obyektif untuk men-SWOT-UP keadaan internal jama’ah untuk memastikan apakah masih perlu dipertahankan adanya partai –yang menjadi sayap jama’ah- atau jama’ah sebaiknya berjalan cukup sebagai ORMAS tanpa perlu adanya partai politik.
b.Bersihkan a’dho-a’dho bermasalah dari posisi-posisi strategis dan proses mereka secara hukum (internal jama’ah) dengan semangat mentarbiyyah. Kemudian memastikan bahwa setiap SDM jamaah memang telah siap secara utuh di posnya masing-masing terlebih jika pos tersebut rawan talawuts.
c.Melakukan penempatan posisi sesuai dengan konsep Proyeksi-Promosi-Nominasi sehingga tidak ada lagi yang “terlalu cepat” naik sampai menimbulkan dampak penyimpangan akibat belum siap memikul beban yang diberikan mendadak.
d.Tegakkan prosedur dan standar taqwim dalam recruitment a’dho secara disiplin sesuai manhaj, dengan tidak lagi mengejar target jumlah, apalagi sekedar target suara pemilu.
e.Kembalikan budaya hubbul ‘ilmi wa ats-tsaqofah di dalam jama’ah dengan menyelenggarakan, menghidupkan dan menyemarakkan tarbiyah di semua level keanggotan a’dho. Semoga dengan demikian wahdatul aqidah, wahdatul fikroh dan wahdatul akhlaq wal manhaj menjadi tolok ukur baik-buruknya jamaah.
f.Efektifkan dua jalur yakni “formal-struktural” dan “incognito” dalam mengelola sistem input informasi dan masukan sebagai dasar membuat kebijakan. Ingat khalifah Umar ibnul Khattab yang sangat sering “turba mendadak dan menyaru.”
Khotimah :
Besar harapan kami agar Allah SWT berkenan membuka hati kita semua dan hati Ustadz agar jama’ah ini kembali bersinar menjadi “darah baru bagi ummat ini”, di tengah keterpurukan bangsa Indonesia di titik terendahnya saat ini.
Besar pula harapan kami pada Allah SWT agar Allah Menyirami hati kami semua dan hati Ustadz dengan kasih sayang al-hubbu fillah satu sama lain sehingga perbedaan-perbedaan pendapat dapat disikapi sebagai kekayaan wacana daripada dianggap sebagai persaingan apalagi permusuhan.
Besar pula harapan kami agar Allah SWT berkenan Menjaga, Melindungi, dan Mengobati hati kami semua dan hati Ustadz darigodaan dan bisikan-bisikan syetan, musuh besar penipu dan pemecah belah manusia; sehingga hati-hati kita dibersihkan sebersih-bersihnya dari berbagai niat-niat yang tidak ikhlas kepada Allah SWT.
Rabu, 26 Maret 2008
Kami yang ditakdirkan Allah berkumpul 23 Maret[v] :
Ustadz Prof DR Didin Hafiduddin
Ustadz Dr Satori Ismail
Ustadz Dr Ahzami Sami’un Jazuli
Ustadz Dr Daud Rasyid Sitorus
Al Akh Mutammimul Ula, SH
Al Akh Mashadi
Al Akh Tizar Zein
Al Akh Ihsan Tandjung
Ukht Siti Aisyah Nurmi

Dibacakan langsung di depan Hilmi Aminuddin pada 26 Maret 2008 di Lembang. Dokumen ini dulu sifatnya confidential, akan tetapi setelah gelombang pemecatan besar-besaran di tahun 2010 admin blog ini menimbang lebih bijak jika dokumen ini dibuka, sebagai bukti bahwa praktik memberikan nashihat sudah dilakukan.
[i] Contoh yang paling besar dan nyata adalah penganuliran hasil syuro pilpres 2004, yang seharusnya jama’ah mendukung Amien Rais diubah ke mendukung Wiranto.
[ii] Seperti dana-dana yang diambil saat pilkada maupun pilpres dengan alasan mahar politik.
[iii] Seperti aset tanah dan bangunan di Lembang, yang dimasukkan dalam aset pribadi padahal dibeli dengan dana jama’ah.
[iv] Diantaranya adalah kasus ust Yusuf Supendi yang telah dituduh mengambil uang jama’ah di depan sidang majelis syuro, tanpa yang bersangkutan diberi kesempatan untuk membela diri.
[v] Bagi yang tidak percaya dengan otensitas dokumen ini silahkan tabayyun kepada Ustadz/ah yang disebutkan namanya di dokumen ini. Mereka lah yang hadir di pertemuan Ibnu Khaldun 23 Maret 2008 dan hadir ke Lembang di tanggal 28 nya. Saat surat ini dibacakan, ustadz Hilmi merah mukanya, menahan amarah. Beliau mengucapkan terima kasih dan bertanya apakah ada lagi nasehat yang ingin disampaikan. Namun sepekan setelah surat ini disampaikan, mereka yang menyampaikan nasihat ini diib’ad/diisolir. Tidak boleh ikut usroh. Dan sebagian besar dari mereka akhirnya dipecat.
Baca Selengkapnya dan biasakan meninggalkan komentar»

Catatan TIM SES 2012 Pilkada DKI

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Rumah salah satu anggota tim sukses pasangan Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini di Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan dilempar bom molotov oleh orang tidak dikenal.

"Insiden teror itu telah mencederai kesepakatan damai para cagub dan cawagub dalam rangka Pilkada DKI Jakarta," kata Koordinator Relawan Pasangan Hidayat-Didik, Renold, di Jakarta, Kamis (21/6).

Ia menjelaskan, teror itu dialami, Suryadi, salah seorang anggota Timses Hidayat-Didik, yang tinggal di daerah Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Rumahnya dilempar bom molotov oleh orang tidak dikenal, pada Kamis dini hari sekitar pukul 01.00 WIB.

"Ini bukan teror yang pertama dialami pendukung pasangan Hidayat-Didik yang bernomor 4. Sebelumnya anggota relawan sempat diancam dengan senjata api di kawasan Jakarta Utara," katanya.

Menurut Renold, bom molotov yang dilemparkan pada dini hari itu mengenai bagian belakang mobil Suryadi, yang diparkir di dalam pagar rumah. Akibatnya bagian belakang mobil, terutama "cover" ban serep, rusak dan terlihat meleleh akibat terbakar bom molotov.

Beruntung, kata dia, sejumlah warga dan penjual nasi goreng mengetahui kejadian itu dan segera memadamkan api yang membakar bagian belakang mobil Suryadi, sehingga tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar.

"Saya tidak tahu pasti siapa pelaku teror tersebut. Namun dari informasi warga yang menyaksikan, jumlah pelaku ada dua orang dan mereka mengendarai sepeda motor. Usai melempar bom, kedua pelaku melarikan diri dengan motor," kata Suryadi.

Ia menjelaskan, bom molotov itu terbuat dari botol bekas air minum kemasan ukuran 500 ml yang diisi bensin dan disumbat kain. Menurut Suryadi, ia akan melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian terdekat.

Suryadi yang dikenal sebagai guru mengaji di wilayah tempat tinggalnya itu berharap pihak kepolisian dapat segera menangkap pelaku teror.

Ia menyayangkan barang bukti berupa kain telah dihilangkan oleh tokoh setempat.
"Sebab apa pun motifnya hal itu sangat membahayakan keamanan," katanya.

Selama ini Suryadi sangat aktif menyosialisasikan pasangan Hidayat-Didik kepada masyarakat sekitar rumahnya. Bahkan belum lama ia menggelar acara sosial yang dihadiri 1.000 warga bersama Hidayat Nur Wahid.
Baca Selengkapnya dan biasakan meninggalkan komentar»

Minggu, 01 April 2012

Penghasilan Tambahan

Mo penghasilan tambahan silahkan deh kunjungi web ini pasti cespleng dan cintai karya anak bangsa sendiri .SITTI adalah salah satu teman sepersaingan Google Adsense. Jika Google punya platform iklan kontekstual bernama Google AdSense, maka Indonesia pun hadir dengan pesaingnya bernama SITTI. SITTI berbeda dengan platform iklan online produk Indonesia lainnya yang lebih dulu ada. Yang membedakan adalah SITTI mampu menyuguhkan iklan kepada pengunjung situs yang memiliki profil yang sesuai dengan kebutuhan si pemasang iklan; mulai dari usia, jenis kelamin, profesi, hingga gaya hidup. Inilah yang dimaksud dengan iklan kontekstual, seperti Google Adsense contohnya.

      SITTI bisa memahami Bahasa Indonesia. Tak hanya bahasa baku, tapi juga bisa mengerti Bahasa Indonesia dengan variasinya. Hal ini seperti yang dituturkan oleh Andy Sjarif, Pendiri SITTI,
“(SITTI) mengerti Bahasa Indonesia yang baik dan benar, bahasa slang, bahasa jadul, sampai yang nyleneh, atau yang sedang tren di kalangan ABG sekarang, bahasa 4lay (baca: alay),”.

     SITTI mengakui bahwa sistem iklannya tak serta-merta lebih baik dari Google Adsense. Namun, mereka mengklaim kinerja SITTI mampu bersaing dengan Google AdSense, terutama pada situs atau blog Bahasa Indonesia.
Sejak 1 Oktober 2010, SITTI telah melakukan pengujian (Beta). Sebanyak 329 merek diuji secara gratis pada 3.000 iklan dan 30.000 kata kunci. Uji coba itu melibatkan 1,6 juta halaman situs dan blog yang telah tergabung.

Untuk Contohnya seperti yang ada di Atas Tampilan Blog ini silahkan langsung terhubung ke Sitti.com
Baca Selengkapnya dan biasakan meninggalkan komentar»

Sabtu, 24 Maret 2012

Nurani Jakarta

Teringat ifthor jama'i lima tahun yang lalu, ketika itu Ust. Hidayat tanpa sungkan beliau makan tidak beda dengan kami, duduk melingkar di atas lantai tak beralas, lauknya pun sama, tidak pakai sendok pula :) Selepas berbuka beliau masih menyempatkan diri berdialog dengan kami, ketika pulang beliau pun pake cipika cipiki dulu, sekarang pun beliau masih seperti itu, kata orang Jerman "Tasik sing Biyen".
Sempat pula aku bertanya kepada pengawal pribadinya bagaimana keseharian beliau. Jawabannya singkat, padat, dan berisi buat Ibroh juga untuk ku pribadi, pengawal pribadi tersebut menjawab, " Mengawal Bapak itu merubah pula kehidupan saya". " Malam Bapak Tahajud mau tak mau saya ikut melek, Bapak sholat Subuh ke masjid sayapun demikian. dan itu mengukir pribadi saya menjadi seorang Ustad juga " ucapnya berseloroh.
Genderang perang segera ditabuh persiapkan apa saja perlengkapannya jangan tertinggal dibelakang, dan
Selamat Berjuang Teman Teman semoga Alloh membalas setiap langkah-langkah kalian, Kibarkan panji kemenangan satukan tekad ini, aku tak mau jika namaku tidak tercatat dalam sejarah ini!!! Allohu Akbar !!!
Baca Selengkapnya dan biasakan meninggalkan komentar»

Minggu, 18 Maret 2012

Apa yang kau pikirkan

"PIKIRAN KECIL, SEDANG, BESAR"
Menarik mengamati perkataan dari Eleanor Roosevelt, istri mantan Presiden USA Franklin D. Roosevelt yang mengatakan : "Small Minds discuss people, Average Minds discuss events, Great Minds discuss ideas".
“Pikiran Kecil membicarakan orang. Pikiran Sedang membicarakan peristiwa. Pikiran Besar membicarakan gagasan”.
Maka sebagai akibatnya ...
PIKIRAN KECIL akan menghasilkan GOSIP.
PIKIRAN SEDANG akan menghasilkan PENGETAHUAN.
PIKIRAN BESAR akan menghasilkan SOLUSI.
Ketiga jenis pikiran ini ada di dalam setiap otak kita. Pikiran mana yang lebih mendominasi kita, begitulah apa yang dihasilkannya.
Kalau setiap saat otak kita dipenuhi oleh Pikiran Kecil, maka kita akan selalu asyik dengan urusan orang lain, namun tidak menghasilkan apa-apa, kecuali perseteruan. Tetapi bila Pikiran Besar yang mendominasi, maka ia akan aktif menemukan terobosan baru.
PIKIRAN KECIL senang menggunakan kata tanya “SIAPA”,
PIKIRAN SEDANG senang menggunakan kata: “ADA APA”, sedangkan
PIKIRAN BESAR selalu memanfaatkan kata tanya: “MENGAPA” dan “BAGAIMANA”.
Dalam melihat satu peristiwa yang sama, misalnya jatuhnya buah apel dari pohonnya, akan cenderung ditanggapi berbeda.

Si PIKIRAN KECIL akan tertarik dengan pertanyaan : “SIAPA SIH YANG KEMARIN KEJATUHAN BUAH APEL?”
Si Pikiran Sedang akan bertanya: “APAKAH SEKARANG BERARTI SUDAH MULAI MUSIM PANEN BUAH APEL ?”
Sedangkan Si PIKIRAN BESAR : “MENGAPA BUAH APEL ITU JATUH KE BAWAH, BUKANNYA KE ATAS?”.

Dan pikiran yang terakhir itulah yang konon mengisnpirasi SIR ISAAC NEWTON menemukan TEORI GRAVITASInya yang terkenal. Tidak ada satupun prestasi atau karya di dunia ini yang dihasilkan oleh Pikiran Kecil.

Di samping itu, ketiga jenis pikiran ini juga mempunyai ‘MAKANAN’ FAVORIT yang berbeda.
Si PIKIRAN KECIL biasanya senang melahap TABLOID, INFOTAINMENT, KORAN MERAH, GOSIP2...
si PIKIRAN SEDANG amat berselera dengan KORAN BERITA, POLITIK....
si PIKIRAN BESAR memilih BUKU-BUKU/ ARTIKEL yang membangkitkan INSPIRASI, TULISAN2 TENTANG IDE2, MOTIVASI....

Jadi apa yang sedang kita pikirkan saat ini ?

Ditulis oleh : Pramono Dewo
Baca Selengkapnya dan biasakan meninggalkan komentar»

Senin, 27 Februari 2012

Kerinduan mendalam....

Bila ane sudah low bat ane kembali membaca buku buku dan taujihat beliau, sudah kebiasaan ane bila membaca ane selalu membayangkan wajah sang pembuatnya seakan akan si pembuat benar benar ada dihadapan ana.( kecuali Al-Qur'an : ane membayangkan keindahan makhluk ciptaan-Nya )
Jika sudah demikian Semangat yang mulai redup kembali berkobar kobar, Hati yang membatu kembali mencair, Jiwa yang miskin kembali kaya.
Semoga Allah merahmati beliau, Ust. Rahmat Abdullah.
Shollawat dan Salam atas Rasulullah SAW.
                                                      Kami Merindu-Mu tapi kami malu jika kami bertemu dengan-Mu.

Kedunguan Kasta vs Komitmen Perjuangan

Almarhum KH Rahmat Abdullah

Pada suatu hari lewatlah seseorang di depan Rasulullah SAW. Beliau bertanya kepada
seseorang  disampingnya:  "Bagaimana  pendapatmu  tentang  orang  ini?"  Orang  itu
menjawab:  "Ia  lelaki  golongan  terhormat.  Demi  ALLAH,  seandainya  meminang
pastilah diterima dan bila memberi pembelaan pasti dikabulkan". Lalu Rasulullah
SAW berdiam. Kemudian melintaslah seseorang. Rasulullah bertanya kepada orang
yang disampingnya tadi: "Bagaimana pandanganmu tentang orang ini?" Ia menjawab:
"Ia muslim yang faqir. Bila meminang pantas ditolak, bila memberi pembelaan takkan
didengar pembelaannya dan bila berbicara takkan didengar ucapannya". Rasulullah
SAW bersabda : "Sepenuh bumi ia lebih baik daripada orang tadi (yang pertama)"
(HSR Muslim).

Ketika  Da’wah  ini  muncul  dan  eksis  dalam  waktu yang  sangat  singkat,  ia  telah
menyata-kan jatidirinya dengan jelas. Ia adalah kemenangan bagi siapa saja yang mau
berjuang, tidak peduli anak siapa dan berapa kekayaan bapaknya. Ia tidak peduli
penolakan Bani Israil paska nabi Musa AS ketika nabi mereka menyatakan bahwa
Thalut  yang  miskin  telah  dipilih  ALLAH  untuk  menjadi  pemimpin  mereka
(Qs.2:247). Ia tidak juga meman-jakan ‘kesombongan intelektualisme’ kaum nabi
Nuh AS yang mencap Nuh hanya diikuti oleh ‘orang-orang rendah, yang dangkal
fikiran’ (aradziluna. badia’r ra’yi, tidak kritis, Qs. 11:27). Bahkan ia pun tak sungkan-
sungkan  menegur  keras  nabinya  karena  ‘logika  prioritas’  yang  dibangunnya
menyebabkan  Abdullah  bin  Ummi  Maktum  ‘nyaris  tertinggal’.  Alqur-an
menyebutkan  "Ia  telah  bermasam  muka  dan  berpaling,  ketika  datang  kepadanya
hamba yang buta……" (Qs. 80:1-2).

Siapa yang tak kenal keutamaan keempat khalifah dan beberapa tokoh legendaris di
ka-langan para sahabat? Namun, carilah dimana nama mereka terpampang dan bukan
hanya sifat, selain Zaid, RA (Qs.33:37) ? ‘Kelas’ inilah yang diakui sebagai kekuatan
yang dengan mereka "kalian diberi rezki dan dimenangkan". (HSR Bukhari)

Pungguk Mengaku Duduki Bulan Demi kepentingan mereka, bahkan Dzulqarnain
mengoreksi  salah  kaprah  yang  merugikan  mereka  sendiri.  "…  mereka  berkata:
"Wahai  Dzulqarnain,  maukah  Engkau  kami  beri  upeti,  agar mau  membangunkan
tembok  (benteng)  yang  dapat  melindungi  kami  dari  (serangan)  mereka?"  Ia
menjawab;  "Kedudukan  yang  ALLAH  telah  berikan  kepadaku  itu  lebih  baik.
Cukuplah kalian membantuku dengan kekuatan, aku bangunkan benteng yang kuat,
memisahkan antara kamu dan mereka" (Qs.18:94-95).

Tanpa pembinaan dan penataan yang benar kelas ini akan menjadi kekuatan destruktif
yang  dikendalikan  tangan-tangan  berdarah.  Dendam  kemiskinan  kerap  membuat
orang melahap fatamorgana. Mereka melahap tuduhan bahwa masyarakat tak peduli
kepada derita mereka, lalu menyambut lambaian para penipu yang akan menunggangi
mereka. Kalau para kader hanya mencemooh dari jauh kelicikan para tengkulak yang
memperdagangkan kemiskinan dan melahap begitu banyak hak masyarakat miskin,
tetaplah roda kemenangan berpihak kepada angkara murka.

Banyak orang kaya baru (OKB) berlomba-lomba memamerkan kekayaan mereka dan
po-litisi dari partai-partai baru yang mencaci-maki partai tiran dan korup sebelumnya.
Tetapi  ajaib,  mereka  menjadi begitu norak, kemaruk dan lebih ‘ndeso’ dari para
pendahulu.. Orang kaya merambat tak perlu waktu adaptasi. Orang kaya mendadak
benar-benar perlu belajar membawa diri. Tetapi orang kaya turunan dan orang kaya
mendadak sama-sama perlu memahami dan mengingat kembali kemiskinan, betapa
pun pahit.

Kader  yang  menyikapi  jabatan  yang  diterimanya  lebih sebagai amanah dari pada
kehormatan,  akan  dengan  cepat  belajar  menyesuaikan  diri  dan  memahahami
karakteristik  tugas  dan  tantangannya.  Bawahan  yang  lebih  pandai,  diakuinya  dan
didorongnya untuk cepat menggapai posisi yang lebih sesuai. Mereka berendah hati,
karena memang tak takut jatuh dengan merendah. Sebaliknya mereka yang bagaikan
senior perpeloncoan yang kerap bermasalah dalam IP mereka, sering menampakkan
gejala ketakutan ‘disaingi’.

Perasaan  berkasta  tinggi.  Melecehkan  orang  yang  mereka  anggap  berkasta  lebih
rendah.  Menelikung  siapa  saja  yang  di  luar  koneksi.  Mengkoptasi  semua  demi
keharuman citra diri. Memecahkan masalah dengan menyalahkan orang lain. Melapor
segalanya beres tanpa ada yang dibereskan.

Hal paling berat bagi kader yang berorientasi kekuasaan atau dunia ialah usaha untuk
mendengarkan dan memahami. Mereka lebih suka didengar, difahami dan dimaklumi.
Tak ada kemajuan dalam prestasi kecuali seni membuat-buat alasan. Karena otak tak
bekerja kerap, mereka lebih suka menggunakan lutut. Muncullah kader-kader ‘gagah’
dengan  mengimitasi  tampilan  serdadu,  bukan  meningkatkan  etos,  disiplin  dan
kehormatan jundi sejati. "Army Look" adalah kebanggaan mereka yang ingin diterima
tanpa harus mengajukan dalil, yang penting orang takut dan nurut.

Kader  Sejati  Pepatah  lama  menyadarkan  kita  betapa  pentingnya  mendengar.
"Ta’allam  husna’l  Istima’  kama  tata’allam  husna’l  Hadits"  (Belajarlah  cakap
mendengar sebagaimana engkau be-lajar untuk pandai bercakap).

Para  ‘penjaja’  Fasad  telah  begitu  lihai  menggeser  cita-rasa  masyarakat.  Mereka
membentuk identitas ABG dengan segala asesori termasuk bahasa. Mereka bentuk
mental attitude-nya sendiri dan bahasa gaulnya sendiri. Seluruh sasaran bahasa adalah
penjungkirbalikan kemapanan. Dan agama adalah bagian yang dianggap kemapanan.

Bahasa fasad lebih fasih dari pada bahasa Islah. Ada bahasa gaul untuk remaja, ada
bahasa  gaul  untuk  tua-bangka  dan  ada  bahasa  gaul  untuk  preman,  morfinis  dan
kriminal lainnya.

"’Ala Man Taqra’ Zabura ?!" (Kepada siapa Anda Bacakan Zabur?), adalah sindiran
tajam bagi da’i yang asyik menyusun kata dan menikmatinya sendiri, tanpa peduli
apakah  komunikannya  dapat  mengerti.  Dalam  pertarungan  memperebutkan
pendukung, ada kekuatan berhasil meyakinkan calon pendukungnya dengan idiom-
idiom tipuan yang memukau rakyat. Ada yang dengan jujur meneriakkan visi dan
misi mereka, tetapi tidak cukup sampai ke telinga batin mereka.

Banyak kondisi menipu (Zhuruf Muzayyafah), yang kerap membuahkan kekecewaan.
Sesudah iman, ikhlas dan pengenalan konsep serta medan, kemampuan transformasi
fikrah  dan  menangkap  gejolak  arus  bawah  mutlak  perlu  dipertajam.  Pesan-pesan
penyampaian dengan berbagai pendekatan, patut dibiasakan; 1. Khathibu’n Nas ala
Qadri uqulihim (Serulah masyarakat sesuai dengan kadar akal mereka), 2. Khathibu’n
Nas  bilughati  qaumihim  (Serulah  masyarakat  dengan  bahasa  kaum  mereka),  3.
Anzilu’n Nas manazilahum (Dudukkan masyarakat menurut kedudukan mereka).

Karena da’wah bukanlah obral candu, perlu diuji ulang, cukup tajamkah telinga ini
men-dengar  krucuk  perut  yang  hanya  berisi  angin.  Cukup  sensitifkah  mata
memandang  seorang  akh  yang  membisu  dalam  kelaparannya  yang  sangat  dan
isterinya yang gemetar menanti rizki yang datang dengan sabar. Masihkah ada waktu
muhasabah  sebelum  tidur,  menyusuri  wajah  demi  wajah,  adakah  yang  belum
tersantuni. Atau menelisik kader yang hanya diberi sanksi, tanpa seorang pun tahu,
tiga hari ini ia tak punya tenaga karena sama sekali tak dapat makanan.

Ini mozaik kehidupan kita yang harus ditata menjadi serasi dan harmoni. Malang
nasib  dia  yang  mati  rasa,  nyinyir  menyindir  kesengsaraan  saudara  sebagai  buah
kemalasan,  seraya  menghabiskan  bertalam-talam  makanan  yang  tak  dapat  lagi
memenuhi rongga perutnya. Bagaimana ia dapat memahami gelombang besar rakyat
jelata  yang  bagai  singa  terluka,  menanti  kapan  saatnya  menerkam  dengan  penuh
murka.[]
Media Pustaka  : PKS.OR.ID
Baca Selengkapnya dan biasakan meninggalkan komentar»

Minggu, 26 Februari 2012

Ibroh sebuah logika

Tak salah bila logika bertanya akan kejanggalan cerita sebuah film yang sedang naik daun ...... :)
*“Soal akidah, di antara Tauhid Mengesakan Allah, sekali-kali tidaklah dapat
dikompromikan atau dicampur-adukkan dengan syirik. Tauhid kalau telah
didamaikan dengan syirik, artinya ialah kemenangan syirik.” *(Prof. Hamka,
dalam *Tafsir al-Azhar*).
Perlu digarisbawahi, saat menonton film *“?”* (*Tanda Tanya*)
pada tayangan perdana, 6 April 2011 lalu, saya adalah seorang Muslim. Saat
memberikan komentar dan memberikan catatan kritis ini, saya juga tetap Muslim, dan saya menggunakan perspektif Islam dalam menganalisis film *“?”*.
Sebagai Muslim, saya telah berikrar: *Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. *
Dengan syahadat Islam itu, saya bersaksi, saya mengakui, bahwa Tuhan saya adalah Allah. Tuhan saya bukan Yahweh, bukan Yesus, bukan Syiwa. Tuhan saya Satu. Tuhan saya tidak beranak dan tidak diperanakkan. Saya mengenal nama dan sifat Allah bukan dari budaya, bukan dari hasil konsensus, tapi dari al-Quran yang saya yakini sebagai wahyu dari Allah kepada Nabi Muhammad saw. Karena itu, sejak dulu, dan sampai kiamat, saya dan semua orang Muslim memanggil Tuhan dengan nama yang sama, Allah, yang jelas-jelas
berasal dari wahyu.Sebagai Muslim, saya yakin, bahwa Nabi Muhammad saw diutus oleh Allah sebagai nabi terakhir. Sebagaimana para nabi sebelumnya – seperti Nabi Musa dan Nabi Isa a.s. – inti ajaran Nabi Muhammad saw adalah Tauhid, yaitu mensatukan Allah. Nabi Muhammad saw diutus untuk seluruh manusia (QS 34:28),bukan hanya untuk bangsa atau kurun tertentu. Itu artinya, kebenaran Islam, bukan hanya berlaku untuk orang Islam, tetapi berlaku untuk semua manusia. Syariat Nabi Muhammad saw saat ini adalah
satu-satunya syariat yang sah untuk seluruh manusia. Cara beribadah kepada Allah – satu-satunya – yang sah hanyalah dengan syariat Nabi Muhammad saw.Jalan yang sah menuju Tuhan hanyalah jalan yang dibawa Nabi Muhammad saw.Akal saya tidak bisa menerima satu logika, yang menyatakan, bahwa Allah
telah menurunkan Nabi-Nya yang terakhir, dan kemudian Allah SWT membebaskan manusia untuk memanggil nama-Nya dengan nama apa pun, sesuai dengan selera manusia. Juga, tidak masuk di akal saya, pendapat yang menyatakan, bahwa Allah SWT membebaskan manusia untuk menyembah-Nya dengan cara apa pun,sesuai dengan kreativitas akal dan hasrat nafsu manusia. Saya yakin, sesuai QS 3:19 dan 3:85, bahwa Allah hanya menurunkan satu agama untuk seluruh Nabi-Nya, yakni agama yang mengajarkan Tauhid (QS 16:36). Jika satu agama tidak mengajarkan Tauhid, pasti bukan agama yang diturunkan Allah untuk para Nabinya; dan pasti merupakan agama budaya (*cultural religion*).
Itu keyakinan saya sebagai Muslim. Dan itu konsekuensi logis dari syahadat yang saya ikrarkan!
*****
Alkisah, Rika, seorang istri yang kecewa terhadap suami. Rika
memutuskan pindah agama, dari Islam menjadi Katolik. Ia berujar, bahwa
kepindahan agamanya bukan berarti mengkhianati Tuhan. Meskipun Katolik, Rika
sangat toleran. Anaknya , – masih kecil, bernama Abi –dibiarkannya tetap
Muslim. Bahkan, ia mengantarjemput anaknya ke masjid, belajar mengaji
al-Quran. Di bulan puasa, dia temani dan dia ajar Abi berdoa makan sahur.
Di Film *“?”* (*Tanda Tanya*), Rika ditampilkan sebagai sosok
ideal: murtad dari Islam, tapi toleran dan suka kerukunan. Pada segmen lain,
secara verbatim Rika mengatakan, BAHWA agama-agama ibarat jalan setapak yang
berbeda-beda tetapi menuju tujuan yang sama, yaitu Tuhan. Kata Rika mengutip
ungkapan sebuah buku, *“… semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju
ke arah yang sama; mencari satu hal yang sama dengan satu tujuan yang sama,
yaitu Tuhan.”*
Mulanya, kemurtadan Rika tidak direstui ibunya. Anaknya yang
Muslim pun awalnya menggugat. Tapi, di ujung film, Rika sudah diterima
sebagai “orang murtad” dari Islam. Bahkan, ada juga yang memujinya telah
mengambil langkah besar dalam hidupnya.
Kisah dan sosok Rika cukup mendominasi alur cerita dalam film *“?” *garapan
Hanung Bramantyo ini. Rika tidak dipersoalkan kemurtadannya. Padahal, dalam
pandangan Islam, murtad adalah kesalahan besar. Saat duduk di bangku SMP,
saya sudah menamatkan satu Kitab berjudul *Sullamut Tawfiq* karya Syaikh
Abdullah bin Husain bin Thahir bin Muhammad bin Hasyim. Kitab ini termasuk
yang mendapatkan perhatian serius dari Imam Nawawi al-Bantani, sehingga
beliau memberikan syarah atas kitab yang biasanya dipasangkan dengan
Kitab *Safinatun
Najah*.
Dalam kitab inilah, sebenarnya umat Islam diingatkan agar menjaga Islamnya
dari hal-hal yang membatalkannya, yakni murtad (*riddah*). Dijelaskan juga
dalam kitab ini, bahwa ada tiga jenis *riddah, *yaitu murtad dengan I’tiqad,
murtad dengan lisan, dan murtad dengan perbuatan. Contoh murtad dari segi
I’tiqad, misalnya, ragu-ragu terhadap wujud Allah, atau ragu terhadap
kenabian Muhammad saw, atau ragu terhadap al-Quran, atau ragu terhadap Hari
Akhir, sorga, neraka, pahala, siksa, dan sejenisnya.
Masalah kemurtadan ini senantiasa mendapatkan perhatian serius dari setiap
Muslim, sebab ini sudah menyangkut aspek yang sangat mendasar dalam
pandangan Islam, yaitu masalah iman. Dalam pandangan Islam, murtad (batalnya
keimanan) seseorang, bukanlah hal yang kecil. Jika iman batal, maka
hilanglah pondasi keislamannya. Banyak ayat al-Quran yang menyebutkan bahaya
dan resiko pemurtadan bagi seorang Muslim.
*”Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam
kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di
akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” *(QS 2:217).
*“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah
yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila
didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya
(ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan
amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-
Nya.” *(QS 24:39).
Jadi, riddah/kemurtadan adalah masalah besar dalam pandangan Islam. Entahlah
dimata kaum Pluralis! Tindakan murtad bukan untuk dipertontonkan dan
dibangga-banggakan! Dalam perspektif Islam, patutkah seorang bangga dengan
kekafirannya?
*****
Masih menyorot sosok Rika dalam film *“?”.* Rika pindah agama, dari Islam
menjadi Katolik. Dalam konsepsi Islam, Rika bisa dikatakan telah melakukan
dosa syirik, karena mengakui Yesus sebagai Tuhan atau salah satu Oknum dalam
Trinitas. Padahal, dalam al-Quran Nabi Isa a.s. jelas-jelas menegaskan
dirinya sebagai Rasul Allah. Nabi Isa adalah manusia, dan bukan Tuhan, atau
anak Tuhan. Ini pandangan Islam. Tentu, ini bukan pandangan Kristen.
Dalam perspektif Islam, menurunkan derajat al-Khaliq ke derajat makhluk
adalah tindakan tidak beradab. Begitu juga sebaliknya, menaikkan derajat
makhluk ke derajat al-Khaliq juga tidak beradab. Itu musyrik namanya.
Seorang presiden saja tidak mau disamakan dengan rakyat biasa. Jika lewat,
dia minta diistimewakan. Kita diminta *minggir*. Binatang juga
dibeda-bedakan tempat atau kandangnya. Adab -- dalam konsepsi Islam --
mewajibkan seorang Muslim meletakkan segala sesuatu sesuai dengan harkat dan
martabat yang sebenarnya, sesuai ketentuan Allah. Nabi Isa a.s. adalah
utusan Allah. Tugasnya menyampaikan kepada Bani Israel, siapa Tuhan yang
sebenarnya, dan bagaimana cara menyembah-Nya. Nabi Isa a.s. melanjutkan
syariat Nabi Musa a.s.
Menuduh Allah mempunyai anak – menurut al-Quran – adalah sebuah kesalahan
yang sangat serius. *“Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil
(mempunyai) anak. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang
sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu dan bumi
terbelah dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menuduh Allah Yang Maha
Pemurah mempunyai anak.”* (QS 19: 88-91).
Islam memandang keimanan sebagai hal terpenting dan mendasar
dalam kehidupan. Iman akan dibawa mati. Iman lebih dari soal suku, bangsa,
bahkan hubungan darah. Iman bukan “baju”, yang bisa ditukar dan dilepas
kapan saja si empunya suka. Iman juga tidak patut diperjualbelikan: ditukar
dengan godaan-godaan duniawi. Ada perbedaan prinsip antara mukmin dan kafir.
*“Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik
(akan masuk) neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya.”* (QS 98:6).
Demi mempertahankan iman, Nabi Ibrahim a.s. rela berpisah dengan
ayah dan kaumnya. Melihat tradisi penyembahan berhala pada keluarga dan
kaumnya, Ibrahim a.s. tidak berpikir sebagai seorang Pluralis yang
menyatakan, bahwa semua agama menyembah Tuhan yang sama, dan punya tujuan
yang sama. Tapi, Nabi Ibrahim berdiri kokoh pada prinsip Tauhid, mengajak
kaumnya untuk meningalkan tradisi syirik.
*“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar, pantaskah
engkau menjadikan berhala-berhala ini sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku
melihat engkau dan kaum engkau dalam kesesatan yang nyata.” *(QS 6:74).
*“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikan negeri ini
(Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari
menyembah berhala-berhala. Ya Tuhanku, sesungguhnya berhala-berhala itu
telah menyesatkan kebanyakan dari manusia, maka barangsiapa yang
mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan
barangsiapa yang mendurhakai aku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.” *(QS 14:35-36)
*“Ibrahim bukanlah Yahudi atau Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif
dan Muslim, dan dia bukanlah orang musyrik.” *(QS 3:67).
Dan kini, dalam setiap shalat, kaum Muslim membacakan doa untuk
Nabi Muhammad saw dan sekaligus dirangkaikan dengan doa untuk Nabi Ibrahim
a.s. Itu tentu karena kegigihan Nabi Ibrahim dalam menegakkan ajaran Tauhid
dan bukan karena Nabi Ibrahim seorang musyrik!
Maka, sebagai Muslim, saya tentu boleh merasa heran, dan
penuh *Tanda
Tanya*, mengapa dalam film *“?”* -- yang diproduksi dan digarap seorang yang
beragama Islam -- soal ganti agama, soal keluar dari Islam, soal pergantian
mukmin menjadi kafir, dianggap perkara kecil dan remeh?

*****

Syahdan, para pemikir ateis, seperti Karl Marx, Friedrich Nietzsche, Sigmund
Freud, Jean Paul Sartre dan sejenisnya, terkenal dengan gagasan-gagasan yang
memandang agama dan Tuhan sudah tidak diperlukan lagi di era zaman modern
ini. Mereka beramai-ramai mempermainkan Tuhan. Jean-Paul Sartre (1905-1980)
menyatakan: *“even if God existed, it will still necessary to reject him,
since the idea of God negates our freedom.” (*Karem Armstrong, *History of
God, 1993). *Thomas J. Altizer, dalam *“The Gospel of Christian
Atheism”*(1966) menyatakan:
*“Only by accepting and even willing the death of God in our experience can
we be liberated from slavery…” *(Karen Armstrong, *History of God*)

Friedrich Nietzsche, dalam karyanya, *Also Sprach Zarathustra*, mengungkap
gagasan bahwa “Tuhan sudah mati”. Karena Tuhan sudah mati, dan tidak
diperlukan lagi, Nietzsche berpendapat, “Kepercayaan adalah musuh yang lebih
berbahaya bagi kebenaran, dibanding kebohongam.” Nietzsche ingin bebas dari
segala aturan moral, ingin bebas dari Tuhan. Ujungnya, pada 25 Agustus 1900,
ia mati setelah menderita kelainan jiwa dan penyakit kelamin. (Lihat, B.E.
Matindas, *Meruntuhkan Benteng Ateisme Modern*, 2010).

* *Jika direnungkan secara serius, Pluralisme Agama sejatinya
bisa begitu dekat dengan ateisme. Ketika orang menyatakan, “semua agama
benar”, sejatinya bersemayam juga satu ide dalam dirinya, bahwa “semua agama
salah”. Sebab, “Tuhan” (God), yang dipersepsikan kaum Pluralis adalah Tuhan
yang abstrak. Tuhan kaum Pluralis adalah Tuhan dalam angan-angan, yang boleh
diberi nama siapa saja, diberi sifat apa saja, dan cara menyembahnya pun
boleh suka-suka. Kapan suka disembah, kapan-kapan tidak suka, bisa diganti
dengan Tuhan lain. Cara menyembah Tuhan, menurut mereka, juga sesuka selera
manusia. Bosan dengan cara satu, bisa diganti dengan cara lain. Sebab, dalam
konsep mereka, tidak ada satu cara yang pasti benar dalam ibadah, sesuai
petunjuk seorang Nabi.

Tuhan dalam Islam mengharamkan babi. Pada saat yang sama, Tuhan
dalam agama Kristen menghalalkan babi. Tuhan, dalam agama
Bhairawa Tantra, memerintahkan agar menyembelih wanita dan darahnya kemudian
diminum bersama-sama. Tuhan dalam agama *Children of God* menganjurkan seks
bebas, sebagai wujud rasa kasih sayang antar-sesama manusia. Kini, di
daratan Amerika dan Eropa bermunculan gereja-gereja nudis. Baik pendeta
maupun jemaatnya, semuanya telanjang bulat saat melakukan kebaktian. Jika
semua jenis “Tuhan” itu diangga sama saja, maka “Tuhan” yang mana yang
disembah kaum Pluralis?

Jadi, saat seorang yang mengaku Pluralis berkata, *“Semua agama
menyembah Tuhan yang sama”,* maka secara hakiki, dia telah berdiri di luar
Islam. Sebab, dia tidak lagi menuhankan Allah. “Tuhan”, baginya, bisa siapa
saja, berupa apa saja, dan berwujud apa saja. Bisa disebut Yehweh, bisa
Allah, bisa Yesus, bisa Brahmin, dan bisa juga Iblis! Yang penting dikatakan
“Tuhan”, yang penting God! Padahal, seorang Muslim sudah mengikrarkan
syahadat: “Tidak ada Tuhan selain Allah”.

Meskipun menyebut Tuhan mereka dengan “Allah”, tetapi kaum Quraisy ketika
itu dikatakan sebagai “musyrik”, sebab mereka menyekutukan Allah dengan
Tuhan-tuhan lain. Allah hanyalah salah satu dari Tuhan-tuhan mereka; bukan
Tuhan satu-satunya. Sebutan bisa sama, yakni “Allah”, tetapi konsepnya
berbeda-beda. Sebagian besar kaum Kristen di Indonesia menyebut juga Tuhan
mereka dengan sebutan “Allah”, tetapi konsepnya berbeda dengan “Allah” dalam
Islam.

Lain lagi dengan aliran “*Darmogandul*” di Tanah Jawa, yang mengartikan
Allah dengan “*ala”* (bahasa Jawa, artinya jelek). Dalam salah satu bait
Pangkur-nya, Kitab *Darmogandul,* menyatakan: *“Akan tetapi bangsa Islam,
jika diperlakukan dengan baik, mereka membalas jahat. Ini adalah sesuai
dengan zikir mereka. Mereka menyebut nama Allah, memang Ala (jahat) hati
orang Islam. Mereka halus dalam lahirnya saja, dalam hakekatnya mereka itu
terasa pahit dan masin.” *

Jadi, Tuhan yang mana yang disembah kaum Pluralis? Jika Tuhan apa pun sama
saja, lalu apa artinya Tuhan bagi mereka? Ujung-ujungnya bisa jadi: Tuhan
tidak penting! Sebab, dalam pandangan kaum ini, Tuhan yang sejati (Allah),
atau manusia, atau setan dianggap sama saja. Semua bisa menjadi Tuhan dan
dituhankan. Ujung-ujungnya, Tuhan dianggap tidak penting. Bandingkan dengan
sosok Sigmund Freud, psikolog dan salah satu perintis ateisme modern, yang
berteori bahwa “Bertuhan, hanyalah wujud gejala penyakit jiwa
*infantilisme*(penyakit kekanak-kanakan). (B.E. Matindas, ibid).

Ketidakjelasan posisi teologis kaum Pluralis Agama, digambarkan oleh Dr.
Stevri Lumintang, seorang pendeta Kristen di Malang, dalam bukunya, *Theologia
Abu-Abu: Tantangan dan Ancaman Racun Pluralisme dalam Teologi Kristen Masa
Kini*, (Malang: Gandum Mas, 2004).

Dicatat dalam ilustrasi sampul buku ini, bahwa *Teologi Abu-Abu *adalah
posisi teologi kaum pluralis ; bahwa teologi ini sedang meracuni, baik agama
Kristen, maupun semua agama, dengan cara mencabut dan membuang semua
unsur-unsur absolut yang diklaim oleh masing-masing agama. Ditegaskan dalam
buku ini: *‘’Inti Teologi Abu-Abu (Pluralisme) merupakan penyangkalan
terhadap intisari atau jatidiri semua agama yang ada. **Karena, perjuangan
mereka membangun Teologi Abu-Abu atau teologi agama-agama, harus dimulai
dari usaha untuk menghancurkan batu sandungan yang menghalangi perwujudan
teologi mereka. Batu sandungan utama yang harus mereka hancurkan atau paling
tidak yang harus digulingkan ialah klaim kabsolutan dan kefinalitas(an)
kebenaran yang ada di masing-masing agama.’’ *

*****

Sosok lain yang secara dominan ditampilkan dalam Film *“?” *adalah seorang
bernama Surya. Ia seorang laki-laki Muslim, berprofesi sebagai aktor
figuran. Dia berteman dengan Rika. Karena miskin, ia terusir dari rumah
kosnya. Lihatlah, dalam film ini, Ibu Kos yang “bakhil” itu ditampilkan
dalam sosok berjilbab, dan mengajari anak Rika agar membaca buku-buku Islam!
Surya memuji-muji Rika telah melakukan sesuatu yang berarti dalam hidupnya.
Mereka berkawan akrab. Surya ditampilkan sebagai sosok yang polos, kocak dan
naif. Untuk uang, dan mungkin untuk mempertontonkan fenomena “kerukunan umat
beragama”, Surya menerima tawaran Rika agar berperan sebagai Yesus. Ia rela
beradegan – seolah-olah -- dipaku di tiang salib di sebuah Gereja Katolik
saat perayaan Paskah. Pada kali lain, ia berperan sebagai Santa Claus.
Sebagian jemaat Gereja sempat memprotes sosok Yesus diperankan seorang
Muslim. Terjadi perdebatan. Muncul Pastor yang menyetujui penunjukan Surya
sebagai tokoh Yesus.
Seperti halnya Rika, tampaknya sosok Surya ditampilkan sebagai representasi
fenomena toleransi dan “kerukunan”. Setelah merelakan dirinya berperan
sebagai Yesus, Surya kembali ke masjid membaca surat al-Ikhlas, sebuah surat
dalam al-Quran yang menegaskan kemurnian Tauhid. *“Katakan, Allah itu satu.
Allah tempat meminta. Allah tidak beranak dan diperanakkan. Tidak ada
sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” Allah itu satu! Allah tidak punya anak!
*Ini gambaran dalam Film *“?” *karya Hanung ini.
Padahal, surat al-Ikhlas seperti mengoreksi doktrin pokok dalam agama
Kristen, yang dirumuskan sekitar 300 tahun sebelumnya, di Konsili Nicea (325 M), 
sebagaimana disebutkan dalam *Nicene Creed*: *“Kami percaya pada satu
Allah, Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta segala yang kelihatan maupun yang tidak
kelihatan. Dan pada satu Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah, Putra Tunggal
yang dikandung dari Allah, yang berasal dari hakikat Bapa, Allah dari Allah,
terang dari terang, Allah benar dari Allah Benar, dilahirkan tetapi tidak
diciptakan, sehakikat dengan Bapa…”* (Norman P. Tanner, *Konsili-konsili
Gereja*).
Padahal, al-Quran sudah menjelaskan: *“Dan ingatlah ketika Isa Ibn Maryam
berkata, wahai Bani Israil sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada
kalian, yang membenarkan apa yang ada padaku, yaitu Taurat, dan menyampaikan
kabar gembira akan datangnya seorang Rasul yang bernama Ahmad
(Muhammad).”*(QS 61:6). Dalam al-Quran, ada cerita Lukmanul Hakim yang
menesehati
anaknya: *“Syirik adalah kezaliman besar*.” (QS 31:13).

Beratus tahun, sejak kelahirannya, Islam membuktikan sebagai agama yang
sangat toleran. Sejak awal, Islam mengakui dan menghargai perbedaan, tanpa
harus kehilangan keyakinan. Saat Nabi Muhammad s.a.w. diutus, di wilayah
Timur Tengah, sudah eksis pemeluk Yahudi, Kristen, dan kaum musyrik Arab.
Nabi Muhammad s.a.w. mengajak mereka untuk memeluk Islam, mengakui Allah
satu-satunya Tuhan dan dirinya adalah utusan Allah. Nabi tidak menyatakan,
“Semua agama sama-sama jalan yang sah menuju Tuhan!” Bahkan, ada perintah
al-Quran dalam surat al-Kafirun (109): *“Katakan, hai orang-orang kafir, aku
tidak menyembah apa yang kamu sembah! Dan tidak pula kamu menyembah apa yang
aku sembah! Dan aku bukanlah penyembah sebagaimana kamu menyembah! Dan kamu
bukanlah pula penyembah sebagaimana aku menyembah!”*

Dalam Tafsirnya, *Al-Azhar*, Prof. Hamka menjelaskan, *asbabun nuzul* surat
*al-Kafirun* ini berkaitan dengan tawaran damai empat tokoh kafir Quraisy
yang resah dengan dakwah Tauhid Nabi Muhammad saw. Mereka adalah al-Walid
bin al-Mughirah, al-Ash bin Wail, al-Aswad bin al-Muthalib dan Umaiyah bin
Khalaf. Mereka mengajukan usulan: *“Ya Muhammad! Mari kita berdamai. Kami
bersedia menyembah apa yang engkau sembah, tetapi engkau pun hendaknya
bersedia pula menyembah yang kami sembah….” *

Buya Hamka mencatat: *“Soal akidah, diantara Tauhid Mengesakan Allah,
sekali-kali tidaklah dapat dikompromikan atau dicampur-adukkan dengan
syirik. Tauhid kalau telah didamaikan dengan syirik, artinya ialah
kemenangan syirik.” *

Lebih jauh Buya Hamka menjelaskan: *“Surat ini memberi pedoman yang tegas
bagi kita pengikut Nabi Muhammad bahwasanya akidah tidaklah dapat
diperdamaikan. Tauhid dan syirik tak dapat dipertemukan. Kalau yang haq
hendak dipersatukan dengan yang batil, maka yang batil jualah yang menang.”
*

Itulah paparan Buya Hamka, ulama terkenal dan salah satu Pahlawan Nasional
di Indonesia. Kita bisa menyimpulkan, jika ada yang menyatakan, bahwa “semua
agama adalah jalan kebenaran”, saat itu dikepalanya telah hilang konsep iman
dan kufur, konsep tauhid dan syirik. Baginya, tiada penting lagi, apakah
seorang bertauhid atau musyrik; tak perlu dipersoalkan makan babi atau ayam,
minum khamr atau jus kurma; tidak penting lagi berjilbab atau telanjang;
tiada beda antara nikah atau zina; yang penting – katanya – adalah mengasihi
sesama manusia. Saat itu, sejatinya, agama-agama sudah tidak ada; sudah
diganti dengan SATU AGAMA: “agama global”, “agama universal”, “agama
kemanusiaan”, atau “agama cinta”.

Persaudaraan global antar-sesama tanpa memandang agama menjadi
misi terpenting dari kelompok lintas-agama semacam Theosofi dan Freemason.
Ketua Theosofische Vereeniging Hindia Belanda, D. Van Hinloopen Labberton
pada majalah *Teosofi *bulan Desember 1912 menulis: *"Kemajuan manusia itu
dengan atau tidak dengan agama? Saya kira bila beragama tanpa alasan, dan
bila beragama tidak dengan pengetahuan agama yang sejati, mustahil bisa maju
batinnya. Tidak usah peduli agama apa yang dianutnya. Sebab yang disebut
agama itu sifatnya: cinta pada sesama, ringan memberi pertolongan, dan sopan
budinya. Jadi yang disebut agama yang sejati itu bukannya perkara lahir,
tetapi perkara dalam hati, batin. *

Inikah yang dituju oleh Film *“?”* Jangan menuduh! Silakan dicermati dan
direnungkan!

*****

Masih ada sosok lain yang diidolakan dalam film *“?”.* Namanya, Menuk. Dia
seorang muslimah, berjilbab pula. Menuk bekerja di sebuah retoran Cina.
Bermacam makanan dijual di sana, termasuk babi. Dengan mencolok kepala babi
ditampilkan. Kata si empunya restoran, bahan babi dan bahan lain dipisahkan.

Menuk diterima bekerja dengan baik di restoran ini. Ia diberi kebebasan
ibadah. Dalam salah satu segmen, ditayangkan Menuk sedang shalat,
disampingnya Nyonya pemilik restoran juga sedang bersembahyang sesuai dengan
agamanya.

Pesan dari pemunculan sosok Menuk ini cukup jelas: inilah contoh toleransi!
Muslimah berjilbab rela bekerja di sebuah restoran yang menjual babi.

Syukurlah, di akhir cerita, anak pemilik restoran bersedia memeluk Islam.
Ini tentu baik, dalam perspektif Islam. Tetapi, apakah perlu harus melalui
proses bekerja di sebuah restoran yang menjual babi? Tujuan baik tidak boleh
menghalalkan segala cara. Tujuan memberi nafkah keluarga adalah baik.
Tetapi, cara yang ditempuh pun harus baik. Banyak muslimah yang gigih
membantu ekonomi keluarganya dengan bekerja keras dalam berbagai bidang
profesi, dan juga toleran dengan yang lain. Tapi, apakah Menuk sosok
Muslimah yang ideal untuk ditampilkan?

Walhasil, Film *“?” *karya Hanung Bramantyo ini* *membawa pesan besar yang
terlalu jelas: agama apa saja, sebenarnya sama saja! Agama-agama dipandang
sebagai jalan setapak menuju Tuhan yang sama. Juga, agama-agama dianggap
barang remeh; laksana baju, agama boleh ditukar dan -- kalau perlu --
dibuang kapan saja! Katanya, demi kerukunan, demi toleransi, dan demi
perdamaian.

Akhirul kalam, di era globalisasi dan kebebasan informasi, saat
kemusyrikan dan kemurtadan ditampilkan dalam wujud yang menawan dan
menghibur, ada baiknya kita merenungkan satu ayat al-Quran: "*Dan
demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan
(dari jenis) manusia dan setan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan
kepada sebagian lainnya perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu."
*(QS 6:112)

Juga, Nabi Muhammad saw pernah bersabda:* “Bersegaralah mengerjakan amal
shalih, (sebab) akan datang banyak fitnah laksana malam yang gelap gulita.
Pada pagi hari, seseorang berada dalam keadaan mukmin, tetapi sore harinya
menjadi kafir. (Atau) sore harinya dia mukmin, pagi harinya menjadi kafir.
Dia menjual agamanya dengan harta-benda dunia.” *(HR Muslim).
Pustaka media : Catatan Harian Adian Husaeni
Baca Selengkapnya dan biasakan meninggalkan komentar»

Selasa, 21 Februari 2012

PKS siaga Banjir

Banjir besar melanda kawasan Pulo, Pondok Labu, Jakarta Selatan. Puncak banjir terjadi pada Ahad malam ketika tingkat kedalaman paling tinggi mencapai 1.5 meter. Dalam musibah ini jajaran kader PKS kembali turun gunung. Puluhan kader PKS dari tingkat pengurus Daerah Jakarta Selatan sampai tingkat pengurus Ranting Pondok Labu turun tangan langsung membantu para korban.
Menurut Syahrulloh, Ketua DPC PKS Cilandak, banjir kali ini lebih parah dari yang sebelumnya. “Kawasan ini memang sering terkena banjir tapi ini lebih parah dari biasanya,” katanya. Banjir yang merendam puluhan rumah di tiga RT ini yaitu Rt 09, Rt 10 dan Rt 11 Rw 3 ini memaksa sekitar 900 orang warganya untuk mengungsi ke tempat yang lebih tinggi sementara waktu." Karena melihat besarnya skala banjir kami langsung turun setelah mendapat informasi. Pagi ini kami sudah menurunkan relawan untuk membantu evakuasi, menyediakan bantuan logistik, obat-obatan, dan pakaian layak pakai,” urai Syahrulloh. “Siang ini juga akan stand by tenaga medis mulai dari dokter sampai asisten apoteker,” tambahnya. (dm/pks cilandak)
Baca Selengkapnya dan biasakan meninggalkan komentar»

Kembali ke ...

SHARE

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Translate

Follow me!Follow me!

P

Terus Bergerak !!!

Semburat Ingin Tahu

Cerdas MerdekA :)

SwaMedium

Ketinggalan Jejak